Dalam konsep self-determination theory disebutkan bahwa kita cenderung terdorong oleh kebutuhan untuk tumbuh dan memperoleh pemenuhan. Konsep self-determination theory ini merupakan hasil riset dari dua orang psikolog yaitu Edward Deci dan Richard Ryan.
Jadi kita melakukan sesuatu bukan sekedar mengerjakan apa yang penting dikerjakan tetapi juga bahagia dalam mengerjakannya. Lalu bagaimana caranya agar hal ini tercapai? Kita mengerjakan hal penting namun tetap bahag
1. Autonomy (Otonomi)
Settingan baku diri kita adalah otonom dan self-directed. Pada dasarnya kita tidak suka dikendalikan oleh orang lain. Otonom terkait dengan kebebasan memilih, yang artinya kita tetap dapat otonom meskipun bekerjasama dengan orang lain. Lawan dari otonomi adalah kendali. Kendali menciptakan kepatuhan sedangkan otonomi menciptakan keterlibatan.
2. Mastery (Penguasaan)
Manusia secara alamiah memiliki kebutuhan untuk bertumbuh lebih baik dalam hal tertentu yang penting bagi dirinya. Hal inilah mengapa saat kita mengalami kemajuan dalam mempelajari sesuatu kita menjadi bahagia. Saat kita berhasil menyelesaikan suatu tahapan dalam pekerjaan juga merasa puas. Kemajuan menciptakan kebahagiaan. Walaupun mengejar mastery itu melelahkan dan butuh waktu panjang, namun mereka yang melakukannya tetap menikmatinya.
3. Purpose (Tujuan yang Bermakna)
Kecenderungan kita mencari tujuan yang bermakna, tujuan yang lebih besar dari diri kita sendiri. Sebuah misi yang membuat kita rela pangun pagi sebelum matahari terbit. Sebuah misi yang sanggup membuat kita rela bergadang hingga larut malam. Berkontribusi pada orang lain, pada dunia, pada sesuatu yang lebih besar dari dirinya.
Bila tiga elemen Autonomy, Mastery, Purpose diramu dengan baik, kita daat menumbuhkan motivasi intrinsik diri kita bahkan orang lain. Sehingga kita termotivai melakukan hal-hal penting untuk dilkukan dan bahagia menjalaninya. Selamat mencoba.